Kemenperin Luncurkan Pendidikan Vokasi Industri di Sulsel

Makassar: Kementerian Perindustrian kembali meluncurkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri. Langkah ini merupakan salah satu wujud nyata dari komitmen pemerintah dalam membangun sumber daya manusia (SDM) yang kompeten.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, mengatakan bahwa di era globalisasi saat ini kualitas dan daya saing dari SDM merupakan salah satu paling penting dalam industri 4.0 saat ini. 

“Peningkatan kompetensi SDM menjadi salah satu program prioritas pemerintah karena dapat memacu produktivtas dan daya saing sektor industri nasional. Hal ini sesuai dengan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0,” katanya, saat meresmikan Program Pendidikan Vokasi Industri, di Kawasan Industri Makassar (Kima), Rabu, 16 Januari 2019.

Program Kemenperin tersebut melibatkan 40 perusahaan industri dan 109 SMK, dengan jumlah kesepakatan kerja sama yang ditandatangani sebanyak 188 perjanjan karena satu SMK dapat dibina lebih dari satu perusahaan industri, sesuai program keahlian di SMK tersebut.

Upaya ini sejalan dengan fokus pemerintahan Presiden Joko Widodo, setelah pembangunan infrastruktur adalah peningkatan kompetensi SDM melalui berbagai program pendidikan dan pelatihan vokasi secara lebih masif.

Apalagi, lanjut Airlangga, Indonesia sedang menikmati bonus demografi sampai 10 tahun ke depan, dengan mayoritas penduduk berada pada usia produktif.

“Mereka ini harus menjadi aktor-aktor pembangunan atau agen perubahan, sehingga jangan sampai menjadi pengangguran yang justru
akan membawa dampak sosial yang besar,” tegasnya.

Guna mengantisipasi hal tersebut yang terkait dengan persaingan global dan memanfaatkan bonus demografi, Kemenperin sedang berupaya menciptakan ekosistem yang mendukung pengembangan industri 4,0.

“Pemerintah telah menetapkan 10 agenda prioritas Making Indonesia 4.0, salah satunya adalah penguatan kualitas SDM melalui redesain kurikulum pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri di era industri 4.0 serta program talent mobility untuk profesional,” terangnya.

dorong agar terus berkembang. Kawasan industri nya ini perlu diperluas karena seperti kima ini kawasan industri nya sudah terbatas. 

Untuk mendukung hal itu pihaknya mengimbau kepada pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk membangun kawasan industri baru sebab, menurutnya Kima yang saat ini sudah terlalu sempit. 

“Jadi perlu dikembangkan kawasam industri 1.000 hektare, sehingga investor itu bisa masuk, karena kalau investornya yang membebaskan  sendiri itu persiapan ribet dan lama,” katanya. 

Sementara,Wakil Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, mengatakan bahwa terkait pembangunan lahan untuk kawasan industri pihaknya masih akan mengoordinasikan hal itu kepada Gubernur serta instansi terkait. 

“Ini akan kita koordinasikan dulu. Kita akan laporkan dulu. Tentu akan ada keputusan bersama termasuk soal kondisi dan letaknya nanti di mana,” jelasnya. 

(ALB)