Pelajar Korban Tsunami Butuh Seragam Sekolah

Warga berjalan di sisa-sisa bangunan yang rusak diterjang tsunami Selat Sunda di Sumur, Pandeglang, Banten, Kamis (3/1/2019). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan.

Pandeglang: Pelajar tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas yang menjadi korban tsunami butuh perlengkapan sekolah. Sejumlah korban tersebut berada di Kabupaten Pandeglang, Banten.

“Kami pada hari kedua masuk sekolah tanpa memakai baju seragam dan buku karena hilang diterjang tsunami,” kata Yati, siswa kelas VI SDN Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, Selasa, 8 Januari 2019.

Meski tidak memakai seragam, pihak sekolah memperbolehkan anak-anak korban tsunami mengikuti kegiatan belajar mengajar, bahkan di antaranya terdapat pelajar yang menggunakan sandal.

Masyarakat Desa Teluk Kecamatan Labuan masuk kategori wilayah terparah diterjang gelombang tsunami, pada Sabtu, 22 Desember 2018 malam. Sebab, perkampungan mereka cukup berdekatan dengan pesisir Pantai Labuan.

Diperkirakan ratusan rumah mereka dalam kondisi rusak berat dan sedang. “Kami berharap bantuan pakaian seragam, sepatu dan buku dapat direalisasikan,” jelas Yati.

Sementara Samsuri, seorang guru SMPN di Kecamatan Sumur mengatakan, proses KBM
hingga kini belum normal karena masih ada siswa yang tinggal di pengungsian.

Mereka pelajar yang belum masuk sekolah cukup banyak, karena rumahnya hancur diterjang tsunami. Selain itu juga mereka membutuhkan pakaian seragam, sepatu dan buku serta alat tulis.

“Sebab. peralatan sekolah itu hilang dan rusak akibat lumpur tsunami. Jumlah pelajar di sini sekitar 300 siswa dan diperkirakan baru mencapai 70 persen siswa yang mengikuti KBM.
Kami berharap siswa dapat bantuan seragam, buku dan sepatu,” ungkap Samsuri.

(DEN)